Dewiultralight08's Blog

Just another WordPress.com site

Teori Land Use Triangle: Continuum (Hadi Sabari Yunus)

wilayah peri urban merupakan wilayah yang ditandai oleh kenampakan fisikal kekotaan ke kenampakan fisikal kedesaan. Kota Yogyakarta dipilih sebagai ajang penelitian oleh Hadi Sabari Yunus karena kota ini mencerminkan dinamika pertumbuhan layaknya sebuah kota besar yang ditandai oleh kompleksitas imigra, konversi lahan kedesaan menjado lahan perkotaan yang sangat cepat, tumbuh kembangya bagian internal kota dengan munculnya pusat-pusat kegiatan utama lain selain Primary Business District, yaitu secondary business district dan munculnya gejala pembentukan tertiary business district.

Dalam teori ini Yunus (142: 2008) menemukan 4 zona yang dapat diterapkan pada kota-kota yang sedang berkembang di Negara yang sedang berkembang, diantaranya adalah:

1. Zona Bingkai kota (Zobikot)

Zona ini merupakan zona yang paling dekat dan berbatasan langsung dengan lahan perkotaan terbangun utama dan beberapa tempat bahkan menyatu dengannya dengan intensitas bangunan yang lebih rendah. Oleh karena Zobikot berbatasan langsung dengan lahan terbangun kota, maka pengaruh kota terlihat maksimal atas bentuk pemanfaatan lahannya dalam artian bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian menunjukkan intensitas paling tinggi dibandingkan dengan wilayah peri urban yang lain.

Pada zona ini kenampakan kekotaan (≥ 75%) betul-betul dominan walaupun disana sini masih terlihat bentuk pemanfaatan lahan agraris. Bebrapa pakar mengemukakan bahwa sudah banyak lahan yang dimiliki oleh orang kota walaupun bentuk pemanfaatan lahannya masih bersifat agraris. Pemanfaatan lahan agraris pada umumnya dilaksanakan oleh pemilik lama atau penduduk sekitar lahan tersebut yang masih berprofesi sebagai petani.

Pada zona ini terdapat dua gejala yang tidak sejalan dengan dimensi de facto dan de jure, yaitu terdapatnya persil-persil lahan yang secara de jure merupakan masih bentuk pemanfaatan lahan non-pertanian, dan gejala kedua adalah terdapatnya persil-persil lahan yang secara de facto masih merupakan brntuk pemanfaatan lahan agraris, namun secara de jure sudah berubah fungsi menjadi lahan non-agraris.

Gejala pertama pada umumnya dilaksanakan oleh pemilik yang memandang bahwa mendirikan bangunan-bangunan tertentu pada miliknya tidak perlu mengubah status bentuk pemanfaatn lahan. Hal ini dapat terjadi  karena ada 3 indikasi yaitu, pemilik memang tidak tahu kalau ada peraturan seperti itu; pemilik tahu tetapi tidak tahu cara mengurusnya; pemilik tahu namun tidak mau mengurusnya.

Gejala kedua mulai marak terjadi pada zona ini karena meningkatnya transaksi jual-beli lahan. Sebagaiman yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa daerah pinggiran kota, khususnya lokasi yang tidak jauh dari kota sangat menarik para pendatang-pendatang baru baik perorangan maupun institusi untuk memiliki lahan di zona ini.

2. Zona Bingkai Kota-Desa (zobikodes)

Kota didahulukan dengan maksud untuk menunjukkan  bahwa antara kenampakan perkotaan masih lebih banyak dibandingkan dengan kenampakan kedesaan. Pada zona ini proporsi kenampakan perkotaan dan kedesaan relative seimbang dengan selisih yang tidak begitu substansial sebagaimana dalam zobikot. Kenampakan kekotaan yang di tunjukkan oleh bentuk pemanfaatan lahan non-agraris berada dalam kisaran sama atau lebih dari 50% namun sama atau kurang dari 75%. Sementara kenampakan kedesaan berkisar antara sama atau lebih dari 25% namun sama atau kurang dari 50%.

3. Zona Bingkai Desa-Kota (Zobidekot)

Dalam zona ini juga menunjukan perimbangan proporsi antara bentuk pemanfaatan lahan agraris dan non-agraris yang nyaris sama. Jika dalam zobikodes proporsi kenampakan bentuk pemanfaatn lahan non-agraris lebih banyak, maka dalam zona ini proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris lebih banyak walaupun perbedaannya tidak mencolok. Proporsi kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris berkisar antara lebih dari 50% sampai kurang dari 75% sedangkan untuk kenampakan bentuk pemanfaatan  lahan perkotaan lebih dari 25% sampai kurang dari 50%.

4. Zona Bingkai Desa (Zobides)

Zona ini adalah zona yang berbatasan langsung dengan zona kedesaan. Batas terluar dari zona ini ditandai oleh 100% kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris. Sementara itu rentang proporsi bentuk kenampakan lahannya adalah sama atau lebih 75% lahan agraris sampai dengan sama atau kurang dari 25% bentuk pemnfaatn lahan non-agraris. Dalam zona ini kenampakan bentuk pemanfaatan lahan agraris betul-betul mendominasi secara mencolok.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: