Dewiultralight08's Blog

Just another WordPress.com site

kenapa harus merasa tertekan???

Beberapa hari terakhir, Dewi baca buku yang judulnya “Rasul Emang Cool”-Bambang Q Anees- yang Dewi pinjem dari ayuk Yonea Bakla. Isinya cool banget. Contoh-contoh kasusnya keren, sebagian besar apa yang aku alami. Berasa  jlep..jlep.. bacanya, Cuma bisa beristighfar aja, Astaghfirullah…..

Salah satu Bab yang Dewi suka (baru baca 6 Bab sih..:D) adalah bab “Banyak Tekanan”. Pada Bab ini diceritakan dan banyak diberikan contoh-contoh hal atau kejadian yang setiap harinya kita temui dan rasakan tentang tekanan hidup.

“ mengapa banyak tekanan yang aku rasakan?? Tugas A belum selelsai, eh si Dora marah-marah tanpa sebab??? Ih nyebelinnn..” pertanyaan dan hal seperti  ini pasti sering dirasakan bagi remaja seperti kita iniJ atau mungkin pernah dirasakan oleh temand-temand. Yang pasti dan biasanya, tekanan itu dirasakan sumbernya dari luar diri kita alias lingkungan sekitar kita lah yang sering menekan kita. Saat orang-orang menginginkan jita untuk melakukan suatu hal yang tidak kita inginkan. Saat kita dituntut untuk bekerja cepat. Saat orang-orang menuntut kita untuk melakukan hal yang tak mampu kita lakukan. Saat seperti inilah kita merasa dalam keadaan tertekan. Bukankah demikian??? Terkadang, meskipun kita mampu dan mau untuk melakukannya, namun kita harus berjanji untuk menyelesaikannya. Keadaan seperti ini juga yang sering kita keluhin “tertekan”.

Tapi sepertinya hidup memang penuh dengan tekanan. Menurut orang, kita lamban. Kita lamban dalam melakukan segala hal yang mereka inginkan, so kita dianggap orang yang lelet atau lemot. Kita lamban dalam memahami apa yang orang-orang sampaikan kepada kita, so kita dianggap bodoh. Ini berarti orang menginginkan sesuatu dari kita. Tekanan seperti ini bisa saja orang lain menginginkan kamu untuk menjadi lebih baik atau bisa saja sebaliknya, tekanan seperti ini yang dinginkan oleh saingan kita, tekanan yang diciptakan untuk menjatuhkan kita, untuk menghina kita, atau apalah yang intinya menginginkan kita jatuh.

Tapi sebagai orang yang baik dan beriman, serta beragama, janganlah merasa tertekan dengan situasi yang diciptakan saingan kita atau orang tua kita yang menuntut kita untuk dapat IP/nilai yang bagus. Kita harus bisa menegasikannya, sehingga yang terfikirkan oleh kita hanyalah hal-hal yang positif saja. Jangan merasa tertekan.

Saat orang  mencelamu, jangan balas mencelanya. Bila ada yang menyinggungmu, jangan tersinggung. Atau bila ada yang membentakmu atau memarahimu, balas dengan senyum sajalah… J atau mau sebaliknya???? Saat orang mencelamu, kamu malah membalas mencelanya. Saat orang membentakmu, kamu akan balas membentaknya bahkan lebih garang dan sadis dibandingkan yang membentak kita. Apakah ini yang temend-temend inginkan dan dirasakan puas??? Tentu,, tentu akan berasa puas dan menyenangkan. Tapi apakah dengan berbuat demikian membuat kita terbebas dari tekanan itu???. Jawabanya belum tentuuu…!!!

Kalau temen-temen mau membalas semua tekanan yang diciptakan untuk kita, waktu temen-temen dan Dewi akan habis mengurusi urusan balas-membalas tekanan itu. Karena semakin tinggi keinginan untuk membalas semua itu, maka temen-temen malah akan merasakan bahwa tekanan yang datang tak habis-habis. Kadang kita berasa bahwa temend kita pamer punya BlackBerry baru yang canggih. Soalnya dia selalu ngotak-atik BlackBerry nya didepan kita. Padahal temend kita tidak bermaksud untuk pamer. Tapi kitanya aja yang ngerasa minder, jadinya nyembuyiin hape kita kalo didepann dia, kita saja yang merasa bahwa temand kita pamer. Jadi persoalannya ada pada diri kita sendiri. Persoalannya adalah bagaimana kita menghadapi dan menerima tekanan-tekanan yang ada. Kita akan merasa selalu berada dalam posisi tertekan, jika dihadapai dengan sikap yang keras kepala seperti tadi. Kita akan merasa selalu berada dibawah tekanan orang orang-orang disekitar kita.

Jadi sekarang kita ahanya ada dua pilihan, apakah kita terus-terusan mau berada dibawah tekanan, dengan membalas apa yang semua orang tekannkan pada kita, atau tetap stay cool, biasa-biasa saja menghadapi tekanan-tekanan itu. Ingat !!! Apa yang sedang dilakukan orang lain tak bisa kamu hentikan; begitu juga apa yang sedang menjadi pikirannya.

Untuk menemukan cara mengahadapi tekanan, belajarlah dari Rasul kita Muhammad SAW yang keren. Let’s play to history-nya.

Rasul sering melewati rumah seseorang dan beliau selalu mendapatkan masalah yang sama, yaitu diludahi. Saat pertama kali melewati rumah itu, beliau diludahi oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Untuk kedua kalinya beliau melewati rumah tersebut, dan beliau medapatkan perlakuan yang sama, yaitu diludahi. Tapi Rasul tak marah dan hanya memilih untuk diam dan memberikan senyum kepada sang peludah.

Pada suatu hari, Rasul lewat lagi dijalan yang sama, tapi tidak diludahi seperti biasanya. Rasul heran dan bertanya-tanya, “diaman gerangan yang begitu setia padaku?”. Dan ternyata sang peludah tadi sedang sakit. Kemudian Rasul menjenguknya dan sang peludah merasa malu kepada Rasul. Karena perlakuannya kepada Rasul tidak membuat Rasul menjadi marah dan mengutuknya, malah yang terjadi sebaliknya. Dan akhirnya sang peludah masuk islam, karena hal ini.

Subhanallah sekali bukan….??? So cool and so sweet banget Rasul kita, Muhammad SAW. Pada kasus ini Muhammad SAW, beliau tidak merasa tertekan, padahal kalau mau beliau bisa marah balik atau meludah balik atau mengutuknya. Tetapi sang rasul merasa saying pada dirinya. Beliau tidak mau dirinya dirusak oleh orang lain . memilih untuk tidak merasa tertekan merupakan cara hidup yang menyelematkan. Sikap seperti ini menjadi cara hidup orang-orang sukses.

Kalau kita di posisi rasul, apa yang akan temend-temen lakukan terhadap sang peludah??? Tentunya harus mencontoh Rasul dong…J penuh kedamaian, itulah yang harus kita upayakan. Karena begitu terpengaruh dengan tekanan itu, kita akan membiarkan diri kita bagian dari yang diinginkan sang penekan. Bukankah seperti itu..??? orang yang menekan kita atau meledek kita, memang memiliki visi dan misi untuk mebuat kita menjadi kesal, saat kita mengikuti alurnya – kesal – maka kita menjadinbagian dari keinginannya, atau dengan kata lain visi misi mereka untuk membuat kita menjadi kesal telah berhasil.

Jadi silahkan dipilih J tetap menjadi diri kita sendiri yang penuh cinta atau mau menjadi bagian dari yang diinginkan mereka sang pembuat tekanan. Kalau Dewi menganjurkan dan mari sama –sama belajar untuk menjadi diri kita sendiri. Menjadi diri kita yang penuh cinta. Dimulai dari belajar menolak menjadi korban. Karena selain menjadi korban kita akan menemui masalah baru lagi, seperti mudah tersinggung, cenderung menyalahkan orang lain, cepat marah, dan mengeluarkan kata-kata  yang kemudian disesali, cenderung merengek dan mengeluh, menunggu segalanya terjadi pada kita, dan berubah. So jadilah diri sendiri, be yourself, dan jadikan Rasulallah figure yang menjadi contoh dan panutan dalam setiap tingkah laku yang kita lakukan. Rasulallah memang cool ya…J

Aku bangga jadi seorang muslim..!!! J

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: